Tak bertanggung jawab
“Aku adalah
seseorang di antara mereka yang tak
bertanggung jawab, atas hati yang sedang sayang-sayangnya lalu aku tinggalkan, dengan alasan yang aku miliki dan aku kumpulkan membukit lalu memuncak, hanya untuk meninggalkan.”
*****
Aku akui, tak
bertanggung jawab itu adalah aku. Aku boleh kamu anggap jahat setelah
perpisahan itu hadir dan menemui kita berdua lalu memecahkan kita berdua yang
pernah menyatu lengket bersatu seperti dua kutub magnet yang berbeda lalu
menyatu atas perbedaan yang ada, dan akhirnya saling rela melepaskan.
Perlu kamu
ketahui saat aku meninggalkanmu akupun juga dalam posisi sama sayangnya
denganmu, namun aku enggan memaksamu untuk berhenti mengungkit masalaluku
seakan kamu begitu cemburu dengan masalaluku, padahal kamu memiliki masalalumu
juga yang hadir dalam hidupmu dan aku tak pernah mengungkit itu, masalalumu
begitu banyak, akupun juga namun tentang wanita aku ceritakan segalanya yang
pernah hadir kepadamu.
Dan lagi-lagi,
kamu terlalu cemburu dengan masalaluku sehingga kamu merasa bahwa kamu bukan
lebih baik dari sebelumnya yang hadir dalam hidupku, kamu terlalu fokus dan
khawatir dengan masalaluku yang membuatmu lupa bahwa kamu memilikiku saat itu,
kamu yang berusaha meyakinkanku dengan apa yang kamu tunjukkan kepadaku tentang
sebuah norma privasi rahasia yang di lakukan setiap orangpun kamu bebas
tunjukkan bahkan kode hape-pun kamu tunjukkan hanya kepadaku. segala pesan
singkat yang hadir kamu tunjukkan bahwa ada seseorang yang menyapamu kala itu
yang justru lebih dari segalanya ketimbang aku. Namun kamu lebih memilihku,
terimakasih untuk itu.
Semua kecemburuanmu
berada di kaki puncak saat aku dan kamu sedang menikmati proses di antara kita
berdua, naik turunnya sebuah hubungan, godaan yang silih berganti datang dan
orang-orang yang saling menilai maupun mengatur kita namun kita tetap bertahan.
Dan itu semua di kaki puncak justru dalam diri ego kita masing-masing, saat
yang lain saling menjatuhkan di luar sana dengan cara mereka, namun justru kita
saling meruntuhkan kepercayaan yang ada pada diri kita.
Kamu melemparkan
sebuah tuduhan yang tak mengarah dengan tepat kepadaku, kecemburuanmu yang
berujung pada pertengkaran yang ada membuat kamupun buta dan lupa saat kita
datang bersama dengan membuka pintu kita bersama dan saling menerima diri kita.
Kamu berkata
“udah selesai yang lagi asik bareng yang lama?”
Membuatku sontak
terkaget-kaget soal itu, aku percaya kamu namun kamu mulai ragu terhadap
kepercayaanmu kepadaku, kita sering bersama bahkan pulang sekolahpun aku
mengizinkanmu pergi mendahuluiku pulang dengan di temani teman cowok yang
banyak berita beredar bahwa diapun menyukaimu, secara normal aku cemburu, namun
hanya sebatas kedewasaanku kepadamu menunjukkan kepercayaan itu kepadamu pada
seseorang yang akan hadir dalam hidupmu nanti itu, dan kamupun berbalik berbeda
denganku, kamu tak khawatir dengan seseorang yang akan hadir dalam hidupku di
masa datang namun kamu justru fokus pada masalaluku yang kamu anggap dan
berfikir “dia akan kembali lalu menggantikan posisiku di hatimu”.
Memang aku
melepaskan dia yang dulu benar-benar aku suka lalu aku pertahankan pada saat
itu yang aku berharap begitu kuat kepadanya dan akhirnya akupun tak memilikinya
karena dia memilih yang lain dari pada aku yang berjuang sebelum yang lain
hadir. Tetapi kamu hadir dalam hidupku
Dan benar-benar
di titik puncak kecemburuan permasalahan, dimana aku memilikimu dan kamu
memilikiku tetapi yang dulu seseorang aku suka lalu putus dengan seseorang yang
dia pilih dari pada aku, seakan kamu kembali lebih ganas dalam emosi hati
cemburumu yang menguasaimu, lagi-lagi kamu terlalu sibuk pada dia yang putus
dengan pasangannya dari pada aku yang sedang juga bersamamu menikmati kita. statusku
bersamamu dan hatiku bersamamu namun kamu tak percaya dan yakin kepadaku bahwa
kamu adalah milikku.
Di puncak
usahaku meyakinkanmu aku sadar bahwa kamu merasakan beban dan sakit dalam
cemburu yang merasukimu, lalu aku pun merasakan tertekan dengan apa yang kamu
lemparkan kepadaku tentang masalaluku. Sehingga terbesit dalam pikiranku untuk
“meninggalkanmu”.
Begitu berat dan
lama aku memikirkannya yang perlu aku pertimbangkan, namun kamu justru semakin
menjadi-jadi, kamu memang tak bisa marah bahkan berteriak maupun mencaci makiku
seperti seseorang yang dulu juga aku tinggalkan karena alasan dia lebih memilih
yang lain dari pada aku
namun kamu
membuat hatiku merasa rapuh saat kamu mulai berbeda tak seperti dulu pertama
kita membuka hati.
Di akhir
pertimbanganku, mungkin dengan cara meninggalkanmu adalah jawaban yang tepat
meskipun bukan yang terbaik, jikalaupun terbaik untuk kita berdua itu berarti
aku sedang menyelamatkan sesegera mungkin hati kita berdua, bahwa meninggalkan
adalah salah satu cara untuk saling menyelamatkan agar tak semakin dalam untuk
menyakiti hati masing-masing.
Kamu dan aku
bisa kembali melakukan semua seperti semula tanpa harus cemburu buta dan
tertekan dalam belenggu tuduhan.
Perlu kamu
ketahui, jika aku tak bertanggung jawab atas sayangmu yang aku tinggalkan,
namun disini ada hati yang benar mencintaimu dan mempercayaimu sepenuh hatiku
kepadamu. Namun semuanya itu dulu biarkan berlalu.
Sampai berjumpa di
lain waktu dengan cinta yang berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar