Rindu
“Menjadi
alasanku kembali untuk melihatmu dengan cara yang manis, meskipun pada
kenyataannya memang menyakitkan, bersitan-bersitan yang perih membuatku hanya
berani menoleh dan tanpa harus melangkah mundur. Karena aku tau, meski jika aku
melangkah mundur-pun sebuah kepastian adalah kamu memang bukan untukku, dirimu
bahkan hatimu.”
*******
Hai!
Sebuah
kalimat sederhana yang dapat membuatku senang menyapamu, hanya satu kalimat
terdiri dari tiga huruf dapat menyambungkan di antara aku dan kamu menjadikan
kita kembali. Hanya sekedar kembali ke masa lalu tidak untuk masa ini dan masa
yang akan datang. Aku tau itu.
Setidaknya
akupun bisa mengobati perasaanku padamu saat ini, meskipun aku dan kamu sudah
memiliki cara berbeda dalam mencari kebahagiaan, mungkin. Aku tak tahu hatimu
saat ini padaku, yang pasti aku disini sebenarnya merindu. Entah untuk siapa?,
yang pasti aku rasa melihatmu adalah salah satu cara mengobatiku saat ini, aku
tak sakit. Namun aku perlu obat vitamin penambah semangat dalam hidup saja. aku
baik-baik saja saat ini, tak ada yang perlu di khawatirkan.
Hanya
untuk membuatku merasa aku lebih baik lagi.
Semoga kamu tak
menolak atas niatku ini. Tak ada niat untukmu membuatmu tersakiti karena aku,
atau membuatmu bahagia seperti dulu karena yang aku tahu dan pasti bahwa kamu
telah lebih bahagia sekarang. Jika aku hadir akan sama saja merusakmu kembali.
Maafkan aku. Tapi izinkan aku merindu kepadamu, pada hati yang dulu aku tuju,
di saat rasa hambar yang terasa manis, di kala waktu hampa menjadi berharga
saat aku pernah bersamamu. Dengan kembali mengingat masa lalu mungkin bisa
mengobatinya dan menambah saja tak lebih dari itu.
Mungkin jika aku
berani mengatakan “hai”, semuanya berbeda. Tetapi aku juga memikirkan yang
lain, berbeda yap benar berbeda,
berbeda saat hatiku terobati saat menyapamu dan kamu kembali mengingatku dulu
yang sama artinya aku melukaimu lagi. Tak sudi, pasti bagiku tak sudi melihatmu
tersakiti lagi. Itulah yang menahan diri bahwa kau tak seharusnya menyapamu.
Rinduku tak akan kamu tau seperti apa gambarannya, bahkan untuk di jelaskan
saja akupun bingung. Yang pasti aku merindu entah aku hanya berpikir satu cara
saat mengobatinya, hanya dengan menyapamu. Semua akan kembali mengingat yang
dulu.
Entah
apakah aku salah ataupun benar saat ini. Saat memutuskan pilihan untuk
meninggalkanmu, aku tau, antara aku dan kamu tak ada jarak apalagi menjauh
setelah berpisah. Semua seperti biasa seperti kita di awal berjumpa. Namun yang
benar-benar aku rasa saat ini berbeda adalah dulu aku merindu, aku tau kepada
siapa yang aku tuju, saat semua yang aku pilih ini terjadi akupun tak tau
rinduku untuk siapa, melihatmu tersenyum di sudut kamera, membuatku senang dan
bahagia, bahwa orang yang aku sayang dulu, saat ini jauh bahagia dari pada saat
denganku, aku syukuri itu.
Yang dulu
begitu mudah mengatakan “aku rindu padamu” begitu susah aku katakan saat ini.
Dimana hatiku merasa beban, hanya sekedar mengatakan “hai” kepadamu. Susah, iya
di antara aku yang merasa malu dan gengsi kepadamu karena aku merasa masih
mempertahankan apa yang aku pilih, begitu juga aku merasakan bahwa aku sama
saja akan merusakmu jauh begitu dalam atau kembali kepada zaman kamu bersamaku.
Sedih memang, saat aku merindu, aku hanya bisa memandangmu melalui sosial
mediamu, statusmu yang memamerkan senyuman kebahagiaan itu yang justru semakin
membuatku rindu kepadamu saat dulu itu semua milikku, saat ini “kamu sudah
bukan orang yang mempertahankan” aku sadar itulah aku.
Dimana
percakapan manis itu. Rentetan kata-kata yang manis, dan tak hanya itu saja,
yang lain, aku terkadang masih tersenyum saat aku masih mengingatmu marah
sepuasmu karena kamu sedang ada tamu (datang bulan) menjadi marah tak jelas,
dimana aku menjadi sasaran amukmu, judesnya engga ketulungan, perhatian yang
kurang, marah yang di kedepankan dan karena yang paling spesial dari momen itu
adalah kamu melepaskan semuanya tentangmu hanya kepadaku, kamu berkata
“sabar-sabar terus, engga tau kalo lagi sakit gininya pakek banget, cowok sih
engga pernah ngerasain, dasar engga peka sakit tau!”. Aku hanya bisa tersenyum
saat semuanya sudah memang aku tak bisa rasakan, saat semua emosimu kamu
lampiaskan kepadaku, saat sakitmu hanya aku yang bisa mendengarkanmu saat itu,
pundak yang selalu siap menerima keluhanmu saat kamu lagi di tahan sama ibumu
sendiri karena kamu laper tengah malem dan takut karena alasan hal ghaib, “aku
laper, tapi aku takut ke dapur”.
Aku tau itu
dulu. Hanya merindu kepadamu yang bukan milikku, maafkan aku untuk kesekian
kalinya, jika kamu tau itu. Aku hanya manusia biasa seperti orang lain, tak
sesempurna seperti apa yang kamu mau dan tak bisa menjadi apa yang kamu mau.
Dan cara
terbaik memelukmu dan memperhatikanmu dengan baik adalah bersama doa dalam
diamku aku panjatkan pada tuhan untukmu bahwa ada hatiku yang selalu meminta
agar tuhan menjagamu dalam penuh kebahagiaan, dan yang paling utama saat aku
berdoa, agar kamu tak menemukan orang yang tak bertanggung jawab meninggalkanmu
saat kamu memang sedang sayang kepadaku karena suatu alasan yang kuat dan di
jauhkan dari sosok manusia yang sebangsat sepertiku. Biarkan dunia menghujatku
dimana selama perajalan aku dan kamu ada godaan dan dukungan dari lingkungan
kita, aku masih saja meninggalkanmu, aku merasa sedih saat itu, jangan kamu
tanyakan lagi apakah aku sedih saat meninggalkanmu?, sudah pasti.
Terimakasih
atas segalanya, aku sedang merindu, jangan tahan aku, agar aku tetap tau bahwa
aku masih menyayangimu dan tak berharap sebuah angan untuk kembali padamu,
karena aku tau juga kekecewaanmu adalah aku.
