Rabu, 05 Desember 2018

Bisu "Rindu"










 Rindu

“Menjadi alasanku kembali untuk melihatmu dengan cara yang manis, meskipun pada kenyataannya memang menyakitkan, bersitan-bersitan yang perih membuatku hanya berani menoleh dan tanpa harus melangkah mundur. Karena aku tau, meski jika aku melangkah mundur-pun sebuah kepastian adalah kamu memang bukan untukku, dirimu bahkan hatimu.”

                                                                        *******




                Hai!

                Sebuah kalimat sederhana yang dapat membuatku senang menyapamu, hanya satu kalimat terdiri dari tiga huruf dapat menyambungkan di antara aku dan kamu menjadikan kita kembali. Hanya sekedar kembali ke masa lalu tidak untuk masa ini dan masa yang akan datang. Aku tau itu.

                Setidaknya akupun bisa mengobati perasaanku padamu saat ini, meskipun aku dan kamu sudah memiliki cara berbeda dalam mencari kebahagiaan, mungkin. Aku tak tahu hatimu saat ini padaku, yang pasti aku disini sebenarnya merindu. Entah untuk siapa?, yang pasti aku rasa melihatmu adalah salah satu cara mengobatiku saat ini, aku tak sakit. Namun aku perlu obat vitamin penambah semangat dalam hidup saja. aku baik-baik saja saat ini, tak ada yang perlu di khawatirkan.

                Hanya untuk membuatku merasa aku lebih baik lagi.

Semoga kamu tak menolak atas niatku ini. Tak ada niat untukmu membuatmu tersakiti karena aku, atau membuatmu bahagia seperti dulu karena yang aku tahu dan pasti bahwa kamu telah lebih bahagia sekarang. Jika aku hadir akan sama saja merusakmu kembali. Maafkan aku. Tapi izinkan aku merindu kepadamu, pada hati yang dulu aku tuju, di saat rasa hambar yang terasa manis, di kala waktu hampa menjadi berharga saat aku pernah bersamamu. Dengan kembali mengingat masa lalu mungkin bisa mengobatinya dan menambah saja tak lebih dari itu.

Mungkin jika aku berani mengatakan “hai”, semuanya berbeda. Tetapi aku juga memikirkan yang lain, berbeda yap benar berbeda, berbeda saat hatiku terobati saat menyapamu dan kamu kembali mengingatku dulu yang sama artinya aku melukaimu lagi. Tak sudi, pasti bagiku tak sudi melihatmu tersakiti lagi. Itulah yang menahan diri bahwa kau tak seharusnya menyapamu. Rinduku tak akan kamu tau seperti apa gambarannya, bahkan untuk di jelaskan saja akupun bingung. Yang pasti aku merindu entah aku hanya berpikir satu cara saat mengobatinya, hanya dengan menyapamu. Semua akan kembali mengingat yang dulu.

                Entah apakah aku salah ataupun benar saat ini. Saat memutuskan pilihan untuk meninggalkanmu, aku tau, antara aku dan kamu tak ada jarak apalagi menjauh setelah berpisah. Semua seperti biasa seperti kita di awal berjumpa. Namun yang benar-benar aku rasa saat ini berbeda adalah dulu aku merindu, aku tau kepada siapa yang aku tuju, saat semua yang aku pilih ini terjadi akupun tak tau rinduku untuk siapa, melihatmu tersenyum di sudut kamera, membuatku senang dan bahagia, bahwa orang yang aku sayang dulu, saat ini jauh bahagia dari pada saat denganku, aku syukuri itu.


Yang dulu begitu mudah mengatakan “aku rindu padamu” begitu susah aku katakan saat ini. Dimana hatiku merasa beban, hanya sekedar mengatakan “hai” kepadamu. Susah, iya di antara aku yang merasa malu dan gengsi kepadamu karena aku merasa masih mempertahankan apa yang aku pilih, begitu juga aku merasakan bahwa aku sama saja akan merusakmu jauh begitu dalam atau kembali kepada zaman kamu bersamaku. Sedih memang, saat aku merindu, aku hanya bisa memandangmu melalui sosial mediamu, statusmu yang memamerkan senyuman kebahagiaan itu yang justru semakin membuatku rindu kepadamu saat dulu itu semua milikku, saat ini “kamu sudah bukan orang yang mempertahankan” aku sadar itulah aku.

Dimana percakapan manis itu. Rentetan kata-kata yang manis, dan tak hanya itu saja, yang lain, aku terkadang masih tersenyum saat aku masih mengingatmu marah sepuasmu karena kamu sedang ada tamu (datang bulan) menjadi marah tak jelas, dimana aku menjadi sasaran amukmu, judesnya engga ketulungan, perhatian yang kurang, marah yang di kedepankan dan karena yang paling spesial dari momen itu adalah kamu melepaskan semuanya tentangmu hanya kepadaku, kamu berkata “sabar-sabar terus, engga tau kalo lagi sakit gininya pakek banget, cowok sih engga pernah ngerasain, dasar engga peka sakit tau!”. Aku hanya bisa tersenyum saat semuanya sudah memang aku tak bisa rasakan, saat semua emosimu kamu lampiaskan kepadaku, saat sakitmu hanya aku yang bisa mendengarkanmu saat itu, pundak yang selalu siap menerima keluhanmu saat kamu lagi di tahan sama ibumu sendiri karena kamu laper tengah malem dan takut karena alasan hal ghaib, “aku laper, tapi aku takut ke dapur”.

Aku tau itu dulu. Hanya merindu kepadamu yang bukan milikku, maafkan aku untuk kesekian kalinya, jika kamu tau itu. Aku hanya manusia biasa seperti orang lain, tak sesempurna seperti apa yang kamu mau dan tak bisa menjadi apa yang kamu mau.
Dan cara terbaik memelukmu dan memperhatikanmu dengan baik adalah bersama doa dalam diamku aku panjatkan pada tuhan untukmu bahwa ada hatiku yang selalu meminta agar tuhan menjagamu dalam penuh kebahagiaan, dan yang paling utama saat aku berdoa, agar kamu tak menemukan orang yang tak bertanggung jawab meninggalkanmu saat kamu memang sedang sayang kepadaku karena suatu alasan yang kuat dan di jauhkan dari sosok manusia yang sebangsat sepertiku. Biarkan dunia menghujatku dimana selama perajalan aku dan kamu ada godaan dan dukungan dari lingkungan kita, aku masih saja meninggalkanmu, aku merasa sedih saat itu, jangan kamu tanyakan lagi apakah aku sedih saat meninggalkanmu?, sudah pasti.

Terimakasih atas segalanya, aku sedang merindu, jangan tahan aku, agar aku tetap tau bahwa aku masih menyayangimu dan tak berharap sebuah angan untuk kembali padamu, karena aku tau juga kekecewaanmu adalah aku.

Bisu "Tak Bertanggung jawab"







Tak bertanggung jawab

“Aku adalah seseorang di antara mereka  yang tak bertanggung jawab, atas hati yang sedang sayang-sayangnya lalu aku tinggalkan, dengan alasan yang aku miliki dan aku kumpulkan membukit lalu memuncak, hanya untuk meninggalkan.”

*****

Aku akui, tak bertanggung jawab itu adalah aku. Aku boleh kamu anggap jahat setelah perpisahan itu hadir dan menemui kita berdua lalu memecahkan kita berdua yang pernah menyatu lengket bersatu seperti dua kutub magnet yang berbeda lalu menyatu atas perbedaan yang ada, dan akhirnya  saling rela melepaskan.

Perlu kamu ketahui saat aku meninggalkanmu akupun juga dalam posisi sama sayangnya denganmu, namun aku enggan memaksamu untuk berhenti mengungkit masalaluku seakan kamu begitu cemburu dengan masalaluku, padahal kamu memiliki masalalumu juga yang hadir dalam hidupmu dan aku tak pernah mengungkit itu, masalalumu begitu banyak, akupun juga namun tentang wanita aku ceritakan segalanya yang pernah hadir kepadamu.

Dan lagi-lagi, kamu terlalu cemburu dengan masalaluku sehingga kamu merasa bahwa kamu bukan lebih baik dari sebelumnya yang hadir dalam hidupku, kamu terlalu fokus dan khawatir dengan masalaluku yang membuatmu lupa bahwa kamu memilikiku saat itu, kamu yang berusaha meyakinkanku dengan apa yang kamu tunjukkan kepadaku tentang sebuah norma privasi rahasia yang di lakukan setiap orangpun kamu bebas tunjukkan bahkan kode hape-pun kamu tunjukkan hanya kepadaku. segala pesan singkat yang hadir kamu tunjukkan bahwa ada seseorang yang menyapamu kala itu yang justru lebih dari segalanya ketimbang aku. Namun kamu lebih memilihku, terimakasih untuk itu.

Semua kecemburuanmu berada di kaki puncak saat aku dan kamu sedang menikmati proses di antara kita berdua, naik turunnya sebuah hubungan, godaan yang silih berganti datang dan orang-orang yang saling menilai maupun mengatur kita namun kita tetap bertahan. Dan itu semua di kaki puncak justru dalam diri ego kita masing-masing, saat yang lain saling menjatuhkan di luar sana dengan cara mereka, namun justru kita saling meruntuhkan kepercayaan yang ada pada diri kita.

Kamu melemparkan sebuah tuduhan yang tak mengarah dengan tepat kepadaku, kecemburuanmu yang berujung pada pertengkaran yang ada membuat kamupun buta dan lupa saat kita datang bersama dengan membuka pintu kita bersama dan saling menerima diri kita.

Kamu berkata “udah selesai yang lagi asik bareng yang lama?”

Membuatku sontak terkaget-kaget soal itu, aku percaya kamu namun kamu mulai ragu terhadap kepercayaanmu kepadaku, kita sering bersama bahkan pulang sekolahpun aku mengizinkanmu pergi mendahuluiku pulang dengan di temani teman cowok yang banyak berita beredar bahwa diapun menyukaimu, secara normal aku cemburu, namun hanya sebatas kedewasaanku kepadamu menunjukkan kepercayaan itu kepadamu pada seseorang yang akan hadir dalam hidupmu nanti itu, dan kamupun berbalik berbeda denganku, kamu tak khawatir dengan seseorang yang akan hadir dalam hidupku di masa datang namun kamu justru fokus pada masalaluku yang kamu anggap dan berfikir “dia akan kembali lalu menggantikan posisiku di hatimu”.

Memang aku melepaskan dia yang dulu benar-benar aku suka lalu aku pertahankan pada saat itu yang aku berharap begitu kuat kepadanya dan akhirnya akupun tak memilikinya karena dia memilih yang lain dari pada aku yang berjuang sebelum yang lain hadir. Tetapi kamu hadir dalam hidupku

Dan benar-benar di titik puncak kecemburuan permasalahan, dimana aku memilikimu dan kamu memilikiku tetapi yang dulu seseorang aku suka lalu putus dengan seseorang yang dia pilih dari pada aku, seakan kamu kembali lebih ganas dalam emosi hati cemburumu yang menguasaimu, lagi-lagi kamu terlalu sibuk pada dia yang putus dengan pasangannya dari pada aku yang sedang juga bersamamu menikmati kita. statusku bersamamu dan hatiku bersamamu namun kamu tak percaya dan yakin kepadaku bahwa kamu adalah milikku.

Di puncak usahaku meyakinkanmu aku sadar bahwa kamu merasakan beban dan sakit dalam cemburu yang merasukimu, lalu aku pun merasakan tertekan dengan apa yang kamu lemparkan kepadaku tentang masalaluku. Sehingga terbesit dalam pikiranku untuk “meninggalkanmu”.

Begitu berat dan lama aku memikirkannya yang perlu aku pertimbangkan, namun kamu justru semakin menjadi-jadi, kamu memang tak bisa marah bahkan berteriak maupun mencaci makiku seperti seseorang yang dulu juga aku tinggalkan karena alasan dia lebih memilih yang lain dari pada aku

namun kamu membuat hatiku merasa rapuh saat kamu mulai berbeda tak seperti dulu pertama kita membuka hati.

Di akhir pertimbanganku, mungkin dengan cara meninggalkanmu adalah jawaban yang tepat meskipun bukan yang terbaik, jikalaupun terbaik untuk kita berdua itu berarti aku sedang menyelamatkan sesegera mungkin hati kita berdua, bahwa meninggalkan adalah salah satu cara untuk saling menyelamatkan agar tak semakin dalam untuk menyakiti hati masing-masing.

Kamu dan aku bisa kembali melakukan semua seperti semula tanpa harus cemburu buta dan tertekan dalam belenggu tuduhan.

Perlu kamu ketahui, jika aku tak bertanggung jawab atas sayangmu yang aku tinggalkan, namun disini ada hati yang benar mencintaimu dan mempercayaimu sepenuh hatiku kepadamu. Namun semuanya itu dulu biarkan berlalu.

Sampai berjumpa di lain waktu dengan cinta yang berbeda.

Rabu, 08 Agustus 2018

Bisu

Author : assegafpangestu





Peringatanku untukmu

Ini adalah sebuah peringatan, agar kamu tak mudah menjatuhkanku dalam posisi yang setengah membaca.

Aku pernah dalam sebuah kisah yang manis dengan beberapa wanita dan yang akhirnya aku memilih untuk berjuang sendiri kembali,pada akhirnya.

Dulu, aku, kamu dan kita pernah menjadi sebuah cerita dalam kehidupan.

Saling percaya bahwa kita juga pernah membuang sebagian waktu kita bersama, tanpa menolak sebuah kenangan yang hadir dalam masalalu, aku dan kamu pernah kuat erat menyatu dan akhirnya saling berpisah enggan bersatu padahal jarak kita hanya antara nafas kita.

Bak minyak yang enggan bersatu dengan air, kamu dan aku saling menatap dan akhirnya memilih untuk hanya saling menatap tanpa memiliki tindakan yang tepat.

Dan akhirnya kita menikmatinya, bersama semesta dengan segala kehebatannya. Dan bersama waktu yang merubah segalanya.

Disini aku adalah seseorang yang meninggalkan pasanganku, namun disini hendak mengatakan, “sekuat apapun alasan aku meninggalkan, setelah itu bermula aku tetap pada awal bertemu denganmu yaitu menyayangimu namun dengan cara yang berbeda”

“agar aku dan kamu tak akan tersakiti lagi”

“untuk kamu, kini aku hanya merindu tanpa tau bagaimana caranya mengobati rinduku, semoga diam dan doaku dapat menemaniku dalam merindukanmu”

Ini bukan rencanaku tetapi sebuah alur yang tepat untuk melanjutkan kehidupan kita masing-masing, kembali.






1. Ikhlaskan aku agar aku mengikhlaskanmu bersamanya

Bagaimanapun juga, aku yang meninggalkanmu. Aku tetap memintamu untuk mengikhlaskanku, jika sewaktu-waktu kamu sudah bersama yang baru, aku tak terlalu cemburu.

Ada hal yang memang sudah kita lewati bersama, itu cukup kita kenang. Mau tidak  mau harus belajar saling menerima keadaan yang ada, melepaskan bukan melupakan ataupun menghapus kenangan.

Bagaimanapun juga, aku pernah menjadi bagianmu dan kamu menjadi bagian hidupku, part of life, iya bagaimanapun hidup ini hanya sekali, jika tak ada kata serius menanggapi hidup ini adalah suatu pemikiran yang sangatlah bodoh. Maka dari itu kamu dan aku pernah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan kita masing-masing, membuang waktu yang hanya sekali hadir.

Kita pernah saling menyapa dalam setiap waktu di awal mata terbuka dari tidur dan menutup mata di penghujung malam, dengan sedikit kata-kata yang sangat di  rindukan tertulis setiap pesan singkat saling kita lempar kepada hape milik kita masing-masing, bahkan kita menambahkan emoticon yang berbeda dengan yang lainnya saat kita juga berlempar pesan dengan mereka yang lain.

“selamat tidur, mimpi indah dan sleep tight my....”

Di bumbui emoticon yang berbeda dengan yang lain.

Kurasa itu sekarang yang berbeda, seakan semua berubah. Bunyi pesan masukpun kini sudah mulai jarang terdengar, pesan-pesan yang berbedapun sekarang enggan datang, saling berlempar pesan mengutamakan sebuah pesan menjadikan sebuah kabar yang tidak berbobot saja, kita kirimkan.

Semua berubah saat kita saling meninggalkan, kita berubah satu sama lain berubah, dulu aku sering mengucapkan nasehat kepadamu agar kamu tak lupa untuk bersyukur dan kamu mendengarkannya dengan baik,

Yang lain juga tentang dirimu yaitu kamu memberi kodeku dengan hal yang sangat menunjukkan bahwa kamu membutuhkan usahaku yang sama dengan mereka seperti ada seseorang yang mengirim pesan kepadamu lalu kamu screenshot kontak pesan masukmu lalu kamu kirim aku dan kamu berkata

“mas ada yang kirim emoticon bunga ke aku, kamu kapan?” seakan itu sebuah kode yang sangatlah aku rindukan saat ini, dimana yang lain menutup rapat privasi mereka tentang pesan singkat mereka kepada pasangan mereka bahwa mereka beranggapan itu adalah hal yang sangatlah membatasi.

 namun dia tidak, dia justru seakan menunjukkan segalanya memberikan kepercayaannya sepenuhnya, padahal mereka yang hadir dan datang silih berganti dengan keadaan yang jauh berbeda denganku, mereka lebih kaya, lebih tampan, lebih keren

dan

mereka lebih berani mengatakan “aku cinta kamu” dari pada aku yang belum pernah mengatakan itu, aku justru merasa bahwa aku mencintainya dengan sebuah tindakan tanpa ucapan.

Seperti kata pepatah, sesuatu yang di ungkapkan dalam ucapan itu akan menjadikan sebuah janji yang harus di tepati. Mungkin itu yang menjadi alasanku enggan mengatakannya hingga saat ini kepadanya. Bukan aku tak cinta dengannya, namun mencintainya bukan hanya sekedar ucapan yang di katakan dengan baik namun sebuah tindakan yang benar dan komitmen yang kuat. Karena cinta adalah tingkatan akhir hati dalam menyatakan perasaan padanya.

Suka, sayang dan cinta.

Urutan itulah yang paling benar. Suka belum berarti sayang dan cinta, tetapi jika sampai ungkapan terakhir yaitu cinta, jika cinta sudah pasti sayang dan suka apapun yang ada dalam diri mereka kelebihan untuk di kembangkan dan kekurangan untuk di seimbangkan di antara hubungan.

Jadi, jika aku semudah itu mengatakan cinta kepadamu maka ada beban yang aku terima, meskipun jika aku dan kamu saling mengatakan cinta kita akan biasa saja, namun seperti saat ini, iya seperti saat ini kita sudah tak lagi bersama, cinta akan memperparah keadaan. Iya saat kita saling meninggalkan, kita saling mengingat bahwa cinta dan menjadikan cinta alasan untuk di salahkan, melempar kesalahan yang ada bersama dengan cinta, lalu meninggalkan dan pada akhirnya saling melupakan dengan cinta.

Dan disini kamu pasti akan mengatakan

“jika kamu cinta aku kenapa harus pergi?”
atau
“kenapa harus bilang cinta jika akhirnya meninggalkan”

Sejak pertama aku dekat denganmu bahkan bersamamu aku tak pernah bertanya “apakah kamu cinta aku?”, aku merasa bahwa memang aku tak seharusnya bertanya itu padamu, ataupun kamu, kita hanya butuh sebuah kepercayaan dan pemahaman di antara kita.

Dan cinta, memang menghadirkan itu semua.

Cinta juga harus berani mengikhlaskan apapun yang terjadi, kita tak bisa menolak apapun cinta berikan kepada hati kita saat ini, karena cinta bukan hanya tentang belajar mempererat hati ataupun menyatukan hati.

Namun, tentang belajar mematangkan hati dan perasaan untuk sesuatu ataupun seseorang yang akan hadir segera pada kita, dalam waktu yang tepat dan benar-benar tepat.

Maka dari itu, aku harap kita sama-sama mengikhlaskan jejak yang membekas menjadi sesuatu yang dapat kita nikmati tanpa harus kembali tersakiti satu sama lain saat melihatnya kembali.