Rabu, 08 Agustus 2018

Bisu

Author : assegafpangestu





Peringatanku untukmu

Ini adalah sebuah peringatan, agar kamu tak mudah menjatuhkanku dalam posisi yang setengah membaca.

Aku pernah dalam sebuah kisah yang manis dengan beberapa wanita dan yang akhirnya aku memilih untuk berjuang sendiri kembali,pada akhirnya.

Dulu, aku, kamu dan kita pernah menjadi sebuah cerita dalam kehidupan.

Saling percaya bahwa kita juga pernah membuang sebagian waktu kita bersama, tanpa menolak sebuah kenangan yang hadir dalam masalalu, aku dan kamu pernah kuat erat menyatu dan akhirnya saling berpisah enggan bersatu padahal jarak kita hanya antara nafas kita.

Bak minyak yang enggan bersatu dengan air, kamu dan aku saling menatap dan akhirnya memilih untuk hanya saling menatap tanpa memiliki tindakan yang tepat.

Dan akhirnya kita menikmatinya, bersama semesta dengan segala kehebatannya. Dan bersama waktu yang merubah segalanya.

Disini aku adalah seseorang yang meninggalkan pasanganku, namun disini hendak mengatakan, “sekuat apapun alasan aku meninggalkan, setelah itu bermula aku tetap pada awal bertemu denganmu yaitu menyayangimu namun dengan cara yang berbeda”

“agar aku dan kamu tak akan tersakiti lagi”

“untuk kamu, kini aku hanya merindu tanpa tau bagaimana caranya mengobati rinduku, semoga diam dan doaku dapat menemaniku dalam merindukanmu”

Ini bukan rencanaku tetapi sebuah alur yang tepat untuk melanjutkan kehidupan kita masing-masing, kembali.






1. Ikhlaskan aku agar aku mengikhlaskanmu bersamanya

Bagaimanapun juga, aku yang meninggalkanmu. Aku tetap memintamu untuk mengikhlaskanku, jika sewaktu-waktu kamu sudah bersama yang baru, aku tak terlalu cemburu.

Ada hal yang memang sudah kita lewati bersama, itu cukup kita kenang. Mau tidak  mau harus belajar saling menerima keadaan yang ada, melepaskan bukan melupakan ataupun menghapus kenangan.

Bagaimanapun juga, aku pernah menjadi bagianmu dan kamu menjadi bagian hidupku, part of life, iya bagaimanapun hidup ini hanya sekali, jika tak ada kata serius menanggapi hidup ini adalah suatu pemikiran yang sangatlah bodoh. Maka dari itu kamu dan aku pernah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan kita masing-masing, membuang waktu yang hanya sekali hadir.

Kita pernah saling menyapa dalam setiap waktu di awal mata terbuka dari tidur dan menutup mata di penghujung malam, dengan sedikit kata-kata yang sangat di  rindukan tertulis setiap pesan singkat saling kita lempar kepada hape milik kita masing-masing, bahkan kita menambahkan emoticon yang berbeda dengan yang lainnya saat kita juga berlempar pesan dengan mereka yang lain.

“selamat tidur, mimpi indah dan sleep tight my....”

Di bumbui emoticon yang berbeda dengan yang lain.

Kurasa itu sekarang yang berbeda, seakan semua berubah. Bunyi pesan masukpun kini sudah mulai jarang terdengar, pesan-pesan yang berbedapun sekarang enggan datang, saling berlempar pesan mengutamakan sebuah pesan menjadikan sebuah kabar yang tidak berbobot saja, kita kirimkan.

Semua berubah saat kita saling meninggalkan, kita berubah satu sama lain berubah, dulu aku sering mengucapkan nasehat kepadamu agar kamu tak lupa untuk bersyukur dan kamu mendengarkannya dengan baik,

Yang lain juga tentang dirimu yaitu kamu memberi kodeku dengan hal yang sangat menunjukkan bahwa kamu membutuhkan usahaku yang sama dengan mereka seperti ada seseorang yang mengirim pesan kepadamu lalu kamu screenshot kontak pesan masukmu lalu kamu kirim aku dan kamu berkata

“mas ada yang kirim emoticon bunga ke aku, kamu kapan?” seakan itu sebuah kode yang sangatlah aku rindukan saat ini, dimana yang lain menutup rapat privasi mereka tentang pesan singkat mereka kepada pasangan mereka bahwa mereka beranggapan itu adalah hal yang sangatlah membatasi.

 namun dia tidak, dia justru seakan menunjukkan segalanya memberikan kepercayaannya sepenuhnya, padahal mereka yang hadir dan datang silih berganti dengan keadaan yang jauh berbeda denganku, mereka lebih kaya, lebih tampan, lebih keren

dan

mereka lebih berani mengatakan “aku cinta kamu” dari pada aku yang belum pernah mengatakan itu, aku justru merasa bahwa aku mencintainya dengan sebuah tindakan tanpa ucapan.

Seperti kata pepatah, sesuatu yang di ungkapkan dalam ucapan itu akan menjadikan sebuah janji yang harus di tepati. Mungkin itu yang menjadi alasanku enggan mengatakannya hingga saat ini kepadanya. Bukan aku tak cinta dengannya, namun mencintainya bukan hanya sekedar ucapan yang di katakan dengan baik namun sebuah tindakan yang benar dan komitmen yang kuat. Karena cinta adalah tingkatan akhir hati dalam menyatakan perasaan padanya.

Suka, sayang dan cinta.

Urutan itulah yang paling benar. Suka belum berarti sayang dan cinta, tetapi jika sampai ungkapan terakhir yaitu cinta, jika cinta sudah pasti sayang dan suka apapun yang ada dalam diri mereka kelebihan untuk di kembangkan dan kekurangan untuk di seimbangkan di antara hubungan.

Jadi, jika aku semudah itu mengatakan cinta kepadamu maka ada beban yang aku terima, meskipun jika aku dan kamu saling mengatakan cinta kita akan biasa saja, namun seperti saat ini, iya seperti saat ini kita sudah tak lagi bersama, cinta akan memperparah keadaan. Iya saat kita saling meninggalkan, kita saling mengingat bahwa cinta dan menjadikan cinta alasan untuk di salahkan, melempar kesalahan yang ada bersama dengan cinta, lalu meninggalkan dan pada akhirnya saling melupakan dengan cinta.

Dan disini kamu pasti akan mengatakan

“jika kamu cinta aku kenapa harus pergi?”
atau
“kenapa harus bilang cinta jika akhirnya meninggalkan”

Sejak pertama aku dekat denganmu bahkan bersamamu aku tak pernah bertanya “apakah kamu cinta aku?”, aku merasa bahwa memang aku tak seharusnya bertanya itu padamu, ataupun kamu, kita hanya butuh sebuah kepercayaan dan pemahaman di antara kita.

Dan cinta, memang menghadirkan itu semua.

Cinta juga harus berani mengikhlaskan apapun yang terjadi, kita tak bisa menolak apapun cinta berikan kepada hati kita saat ini, karena cinta bukan hanya tentang belajar mempererat hati ataupun menyatukan hati.

Namun, tentang belajar mematangkan hati dan perasaan untuk sesuatu ataupun seseorang yang akan hadir segera pada kita, dalam waktu yang tepat dan benar-benar tepat.

Maka dari itu, aku harap kita sama-sama mengikhlaskan jejak yang membekas menjadi sesuatu yang dapat kita nikmati tanpa harus kembali tersakiti satu sama lain saat melihatnya kembali.